About us

Pelayanan bedah saraf datang ke Surabaya pada tahun 1959 – 1960, ketika dr. HRM Soejoenoes, Dekan dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, membuka pintu bagi dr. Basoeki Wirjowidjojo yang baru saja pulang kembali dari pelatihan bedah saraf di Belanda.

Kembali pada tahun 1951 – 1952, Basoeki adalah seorang mahasiswa kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Selama tahun terakhirnya, beliau bekerja sebagai asisten untuk ahli bedah saraf dari Belanda di <em>Prinses Margriet Hospital Kliniek voor Neurochirurgie </em>yang berlokasi di Jl. Raden Saleh 49, Jakarta. Ketertarikan beliau pada bedah saraf diketahui oleh Dr. De Grood. Pada tahun 1954, Dr. M.P.A.M de Grood menawari beliau posisi sebagai asisten bedah saraf di <em>St. Elizabeth Ziekenhuis</em> di Tilburg, Belanda. Setelah menempuh pendidikan selama 4 tahun, beliau kembali ke Indonesia.

Di Surabaya, beliau bekerja di dua rumah sakit: CBZ (<em>Centraal Burgerlijk Ziekeninrichting</em>) Simpang dan Karangmenjangan Central Hospital (sekarang menjadi Rumah Sakit Umum dr. Soetomo). Rumah Sakit Simpang kebanyakan digunakan untuk operasi darurat, sementara Rumah Sakit Karangmenjangan digunakan untuk operasi elektif.

Kehadiran dr. Basoeki memberi kesempatan bagi pasien bedah saraf untuk diterapi oleh ahli bedah saraf. Perdarahan intrakrnial, tumr otak, dan operasi bedah saraf lainnya dapat dilakukan di kedua rumah sakit walaupun dengan sumber daya yang terbatas.

Pada tahun 1970, Dr. R Soetojo, Kepala Bagian Bedah di Bagian Bedah Umum menderita sakit dan tidak mampu melanjutkan melanjutkan tugasnya. dr. Basoeki ditunjuk menjadi kepala bagian menggantikan posisi Dr. R Soetojo. Pada saat itu , bedah saraf hanya merupakan satu seksi di Bagian Bedah Umum. Sejak beliau adalah satu-satunya ahli bedah saraf pada saat itu, beliau harus mengatur jadwal sebagai kepala bagian dan tugas memberi pelayanan bedah saraf. dr. Basoeki berpikir alangkah baiknya bila ada lebih dari satu bedah saraf.

Pada tahun 1971, hubungan yang bagus antara dr. Basoeki dengan Prof. H.A.D. Walder di Nijmegen membuka jalan bagi dr. M. Sajid Darmadipura, yang baru saja menyelesaikan pendidikan sebagai dokter saraf di Surabaya, untuk dilatih sebagai ahli bedah saraf di <em>Katholieke Universiteit, Sint Radbound Ziekenhuis, </em>Nijmegen, Belanda. Beliau menyelesaikan pendidikannya pada tahun 1975 dan kembali ke Surabaya untuk bekerja dengan dr. Basoeki. Setelah dr. Sajid kembali ke Surabaya, dr. Basoeki mengirim dua dokter lain dengan dua periode berurutan ke Nijmegen untuk mengikuti pendidikan bedah saraf di rumah sakit yang sama dengan dr. Sajid, ialah dr. Umar Kasan (1975-1979) dan dr. Abdul Hafid Bajamal (1979-1983). Dengan tambahan tiga tenaga di bedah saraf, Basoeki merasa lebih mudah untuk mengatur dan menjalankan pelayanan bedah saraf hingga posisi beliau sebagai kepala bagian bedah diganti pada tahun 1987.

Pelayanan bedah saraf tidak hanya dilakukan di Rumah Sakit Karangmenjangan, tetapi juga dilakuakn di rumah sakit swasta di Surabaya untuk memperluas jangkauan pelayanan bedah saraf. Malang, 90 kilometer dari Surabaya, juga memperoleh keuntungan dari pelayanan tersebut, sekitar tahun 1980-an. dr. Abdul Hafid menghabiskan waktu akhir minggunya untuk memberikan pelayan bedah saraf di Rumah Sakit Umum Syaiful Anwar (rumah sakit pemerintah) dan Rumah Sakit Lafalette (rumah sakit swasta). Setelah dr. Istiadjid menyelesaikan pendidikan bedah saraf di Surabaya, 1987, beliau bekerja di Rumah Sakit Malang dan akhirnya menggantikan tugas dr. Abdul Hafid di Malang.

Pada awal tahun 1980-an, kebutuhan tidak hanya pada pelayanan bedah saraf tetapi juga untuk melatih residen untuk meluaskan jangkauan pelayanan bedah saraf di seluruh Indonesia. Residen pertama yang mengikuti pendidikan di Surabaya ialah dr. Adril Arsad Hakim yang lulus tahun 1986 dan memulai pelayanan  bedah saraf di Medan, Sumatra Utara. Sejalan dengan program pendidikan yang terus tumbuh, ke empat ahli bedah saraf lulusan Belanda merasa sudah waktunya untuk menambah jumlah staf. Pada tahun 1995, di bawah kepemimpinan dr. Umar Kasan, dr. Agus Turchan dan dr. Muhammad Arifin, yang telah dilatih di Surabaya, ditunjuk untuk menambah kekuatan pelayanan. Pelayanan bertumbuh tidak hanya dengan tenaga manusia, tetapi juga dengan ketrampilan dan peralatan. Mikroskop bedah menjadikan pelayan bedah saraf mikro jadi memungkinkan. Para staf juga didukung untuk menambah pelatihan di bidang khusus. dr. Abdul Hafid menghabiskan waktunya untuk belajar bedah mikro dan mengenalkan Sublabial Transphenoidal Hypophisectomy (SLTH) dan microdiscectomy untuk Lumbal Herniated Disc. dr. Agus Turchan dikirim ke Koln, Jerman, untuk belajar Stereotactic dan Functional Surgery. dr. M. Arifin menambah kemampuannya di bidang bedah craniofacial dan neuroendoscopy. Generasi bedah saraf yang lebih muda juga mengikuti jejak seniornya untuk memperdalam ilmu bedah saraf sub-spesialistik, antara lain: dr. Eko Agus Subagio memperdalam Bedah Tulang Belakang (Spine surgery) di berbagai negara seperti India, Turki, Belanda, dan Finlandia; dr. Asra Al Fauzi memperdalam tentang bedah cerebrovascular di Jepang; dr. Wihasto Suryaningtyas memperdalam tentang bedah saraf anak (pediatric neurosurgery) dan bedah epilepsi di Boston dan Vancouver, Kanada; dr. Rahadian Indarto memperdalam tentang pembedahan dasar tengkorak (skull base surgery); dan dr. M. Fariz memperdalam tentang neurotrauma dan neurointensive care.

Dengan pensiunnya beberapa staf pengajar: Prof. Basoeki Wirjowodjojo (emeritus), Prof. H.M. Sajid Darmadipura, dan terakhir Prof. Umar Kasan, saat ini, Bagian Bedah Saraf memiliki 9 staf pengajar aktif, yaitu: Prof.  Dr. dr. Abdul Hafid Bajamal, Dr. dr. Agus Turchan, Dr. dr. M. Arifin, Dr. dr. Joni Wahyuhadi, dr. Eko Agus Subagio, dr. Asra Al Fauzi, dr. Wihasto Suryaningtyas, dr. Rahadian Indarto Susilo, dan dr. Muhammad Fariz. Tidak kurang dari 50 ahli bedah saraf telah lulus dari Surabaya hingga akhir 2010, dan 37 lainnya masih mengikuti pendidikan.

Dengan visi yang sama, beberapa tujuan/misi ini masih menjadi prioritas dari keinginan kami untuk menjadi yang terbaik: pertama: menyediakan kepedulian bedah saraf untuk komunitas pada basis ilmu pengetahuan, kemampuan, dan kemanusiaan dengan orientasi keamanan pasien; kedua, menyiapkan ahli bedah saraf yang kreatif dan inovatif yang mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan pelatihan bedah saraf, dan untuk memimpin di bidang bedah saraf; ketiga, membantu perkembangan dan mendukung penelitian untuk mempertinggi terapi pada bermacam-macam penyakit yang mempengaruhi sistem saraf.

Saat ini dengan makin bertambahnya jumlah staf maka pelayanan sub-spesialistik dapat dikembangkan sehingga kesiapan untuk menerima rujukan kasus-kasus yang kompleks akan makin meningkat.

Leave a reply

* *

© Indonesian Society For Stereotactic and Functional Neurosurgery inassfn.org, all rights reserved.